Kaltim mencetak padang pasir






Negara-negara Teluk terus berusaha menemukan teknologi yang bisa mengubah daerah gurun pasir menjadi lahan subur untuk pertanian. Beberapa negara di kawasan itu memiliki dana berlimpah untuk menerapkan teknologi mahal untuk mengatasi permasalahan itu.

Uni Emirat Arab, misalnya, telah melaksanakan sebuah survei tanah untuk menemukan daerah yang memiliki suplai air bawah tanah dan kualitas tanah yang dapat ditingkatkan.

Faisal Taha, kepala proyek survei tanah dari Badan Lingkungan Abu Dhabi mengatakan, hasil survei menemukan lebih dari 200.000 hektar lahan yang dapat digunakan untuk pertanian. Lahan tersebut berada di wilayah barat Madinat Zayed, Ghayathi dan wilayah timur Al Ain.

Abu Dhabi akan mendanai studi senilai Rp 323,4 miliar yang akan berlangsung selama dua tahun untuk mengidentifikasi daerah lain yang potensial sebagai lahan pertanian di kawasan sebelah utara Uni Emirat Arab.

“Tanah itu tidak akan dapat menjamin 100 persen keamanan pangan bagi Uni Emirat Arab, namun strategi ini muncul pada saat yang tepat ketika banyak lembaga internasional mengecam negara-negara kaya yang membeli lahan di negara lain yang tak bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dan mengekspor hasil pertaniannya,” kata Taha.

Selama beberapa tahun terakhir, negara-negara teluk yang menggantungkan kebutuhan mereka dari impor pangan mulai meningkatkan upaya untuk membeli dan menyewa lahan pertanian di negara-negara berkembang sebagai langkah mengamankan suplai pangan mereka. Akuisisi lahan asing tersebut memancing kritik dan perlawanan dari para petani di negara berkembang.
Habis manis sepah di buang

Selain Uni Emirat Arab, Qatar dan Kuwait juga mencoba meningkatkan suplai pertanian domestik mereka lewat penggunaan berbagai jenis jamur yang dapat meningkatkan pertumbuhan akar tanaman di daerah kering.

Sementara itu, di Indonesia khusus nya di Kaltim, yg alam nya hijau dan subur
tampak nya justru akan banyak mencetak padang pasir baru, walau pun sebenar nya tak pernah ada tujuan dan rencana ke arah itu.
tapi kalau melihat realita yg terjadi sekarang, bukan tidak mungkin tak lama lagi Kita akan memiliki banyak padang pasir yang menyebar di segala penjuru.

Foto calon Padang pasir
kenapa Saya menulis demikian?,
sudah sangat jelas di depan mata kita, betapa Exploitasi alam di Kaltim sudah sangat memprihatinkan, kenyataan bahwa alam di kaltim tidak lagi di kelola secara benar, tapi di peras seenak nya demi keuntungan sesaat, tampa menghiraukan dampak yg di timbulkan di masa yang akan datang.
saat ini sudah mulai kita rasakan akibat dari exploitasi alam yg berlebihan,
dulu,... kalau hujan deras satu jam saja, kita tidak pernah khawatir akan bahaya banjir, tapi sebalik nya sekarang ini, hujan 1 jam saja sudah mengakibat kan banjir.
yg lucu menurut Saya,... ada pejabat yang mengatakan bahwa ini adalah penomena alam.
Kemakmuran sesaat
mungkin lebih tepat dikatakan ini adalah penomena keserakahan manusia yg mencari keuntungan dengan menghalal kan segala cara tampa perduli pada kelestarian alam yg sudah pasti akan menjadi penderitaan berkepanjangan bagi Generasi yg akan datang yang tidak lain adalah Anak cucu kita semua.

Belum terlambat untuk menyadari kesalahan dalam mengelola alam, jangan habis kan yang masih tersisa, jangan salah kan alam yg marah dan memberi bencana kepada kita semua, karena kita tak pernah mengelola nya dengan baik, selain menghancurkan alam yg menjadi sumber penghidupan.

menyuburkan padang pasir lebih mahal !!!
Penduduk semakin bertambah Tapi persawahan sebagai sumber bahan pangan semakin berkurang
Jangan gusur Sawah dan kebun Untuk Tambang Batubara,
karena Anak cucu kita sampai kapan pun akan tetap makan nasi, Sayur sayuran, dan buah buahan.
Stop !!! mulai sekarang
KALTIM GREEN adalah semboyan yang harus di imbangi perbuatan yang nyata.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...