PUSAMANIA Peduli KAREN NASIFAH


Karen Nasifah Mengidap Kolestatis
Terbaring Lemah, Perlu Rp 800 Juta Untuk Transplantasi Liver
USAHA Karen Nasifah untuk menuju kesembuhan baru mencapai babak awal. Balita yang mengidap penyakit kolestatis ini harus melakukan transplantasi atau cangkok hati. Padahal dana yang dibutuhkan untuk menjalani pengobatan mencapai ratusan juta rupiah.

SETELAH beredar di sejumlah media massa, kini Karen menjadi buah bibir warga Samarinda. Perhatian pun kini banyak diperolehnya. Jumat (6/1) kemarin, sekitar pukul 08.00 Wita, bocah berusia 1 tahun 2 bulan itu dirujuk ke RSUD IA Moeis oleh Camat Loa Janan Ilir Sumaryadi. Menggunakan mobil pribadinya, anak dari pasangan Novitasari (18) dan Yulianto (23) langsung mendapatkan penanganan tim medis. Hingga siang, bocah dengan kondisi perut membesar dan kuning di bagian matanya itu masih terbaring lemah di kamar nomor 9, Ruang Karang Asam, RSUD IA Moeis. Hanya didampingi neneknya Yatmi (50), Karen belum mendapatkan kepastian langkah penyembuhan yang akan dilakukan. Sementara kepastian tentang penyakit yang diidap Karen, datang dari seorang dokter spesialis anak bernama William. Menurutnya, Karen mengidap penyakit kolestatis akibat kurang lancarnya aliran pada empedu. Sebelumnya, penyakit ini sempat dialami Bilqis, yang meninggal dunia saat melaksanakan operasi transplantasi hati.
"Dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan, penyakit yang diidap Karen adalah koletatis. Sakit yang timbul akibat pembentukan organ yang kurang sempurna saat masa kehamilan," ujar William kepada harian ini kemarin.
Akibat kurang lancarnya aliran empedu pasien, sejumlah dampak buruk menyerang tubuh bocah kelahiran 5 November 2010 itu. Selain membuat perut pasien membengkak, mata pasien juga berubah menjadi kuning.
"Salah satu dampak dari kurang lancarnya aliran empedu adalah tubuh yang menguning, hingga pada bagian mata pasien," papar William.
Untuk masalah umur, William tak berani memastikan. Menurutnya selama sistem liver di dalam tubuh pasien bisa bekerja, pasien masih dapat melihat indahnya dunia. Namun ia juga tak dapat memberikan keterangan pasti sampai kapan liver bocah malang itu dapat bekerja dengan penyakit yang diidapnya saat ini.
"Untuk masalah kondisi pasien dan dapat bertahan berapa lama, saya tidak dapat menentukan. Yang pasti selama liver pasien masih bekerja, anak itu masih bisa bertahan," paparnya.
Terkait solusi, menurut William hanya satu yang bisa dilakukan guna menyelamatkan nyawa Karen. Yakni dengan melakukan cangkok hati. Pengobatan dengan cara itu tidak mudah dan murah. Minimal keluarga pasien harus menyediakan uang dengan jumlah besar.
"Satu-satunya jalan adalah transplantasi liver (cangkok hati)," singkatnya.
Untuk sementara ini menurut Direktur RSUD IA Moeis, Dr Rini Retno Sukesi biaya pengobatan Karen menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Namun ia belum dapat menjelaskan langkah apa yang akan dilakukan untuk menangani penyakit yang diderita Karen.
Sementara itu di tempat terpisah, Yatmi nenek Karen mengaku cukup senang dengan perhatian yang diberikan pemerintah, serta masyarakat Samarinda. Karena selama ini ia bingung mencari solusi untuk kesembuhan sang cucu. Selain itu ia berharap ini menjadi langkah awal agar Karen dapat sembuh dari sakit yang dideritanya.
"Saya sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang mau membantu untuk kesembuhan cucu saya. Saya masih berharap Karen dapat sembuh dari penyakit ini. Kalau dari pengobatan sebelumnya, dokter yang menangani Karen bilang kita harus menyediakan uang sebesar Rp 800 juta hingga Rp 1 miliar untuk operasi cangkok hati" ujar Yatmi sembari mengelus kepala cucunya.

PUSAMANIA Peduli 
Malam tadi Sabtu 7 januari (malam Minggu) di simpang tiga depan Hotel Mesra,  PUSAMANIA mengadakan acara pengumpulan dana untuk turut membantu biaya pengobatan Karen nasifah.





Semoga Karen cepat sembuh dan semoga PUSAMANIA tetap eksis dengan kegiatan-kegiatannya yg Positif.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...